Catatan Politik Raymundus Sau Fernandez ,Berawal Dari Keprihatinan (1)

  • Whatsapp
Raymundus Sau Fernandez Ketika masih menjabat sebagai Wakil Bupati TTU ketika duduk bersama warga di kebun di desa Nansean Timur, Kecamatan Insana/Foto Dokumen Pribadi Raymundus Sau Fernandez

 

Raymundus Sau Fernandez ketika masih menjabat Wakil Bupati TTU. Tampak Ray duduk bersama masyarakat Petani di salah satu kebun

Kiprah politik Raymundus Sau Fernandez ternyata tak semuda membalikan telapak tangan. Karir politik yang gemilang-cerah saat ini dinikmati, sejatinya melalui sebuah perjuangan panjang. Semuanya berawal dari sebuah keprihatinan sebagai aktifiRaymundus Sau Fernandez.

Bacaan Lainnya

.

Raymundus Sau Fernandez sama seperti yang lainnya, tidak pernah mengetahui takdir politiknya di masa yang akan datang. awalnya ia tidak pernah punya mimpi menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten  Timor Tengah Utara (TTU).

“Semuanya bermula dari keprihatinan saya sebagai seorang aktifis ketika melihat Ibu Megawati yang hendak digusur dalam Konggres Medan waktu itu. Akhirnya, kami mengadakan aksi di Kupang untuk menentang Konggres Medan. Di bawah pimpinan saya,  kami mengusir Simon Hayon dari Bandara dan  merebut Sekretariat PDI di Bonipoi. Setelah aksi, saya dipanggil dan diminta Pak Frans Lebu Raya untuk segera pulang ke Kefa untuk melakukan konsolidasi agar PDI Pro Mega dapat dihidupkan di Kefa. Saya kemudian pulang ke Kefa. Namun saat saya hubungi simpul-simpul PDI di TTU, mereka tidak bersedia menerima saya. Dengan penolakan itu, saya kembali lagi ke Kupang menghadap Pak Frans. Setelah mengrimkan sebuah surat ke Ibu Mega dan bermodalkan rekomendasi dari Pak Frans, pada akhir 1996 saya kembali lagi ke Kefa. Awal 1997 kami sudah mulai membangun simpul-simpul PDI Pro Mega di Kefa. Tahun 1998 saya mengikuti Konggres PDI Pro Mega di Denpasar,” kata Raymundus Sau Fernandez.

Menurutnya, mengikuti Konggres di Bali cukup menarik sekaligus memilukan. Bayangkan, waktu hendak berangkat, uang di saku hanya Rp20.000. Uang itu pemberian istri, itu pun merupakan uang sisa biaya kelahiran anak kami di rumah sakit. Dari Rp40.000 sisa biaya rumah sakit, karena Rp20.000 telah diberikan kepadanya, istri dan anak-anak kemudian ia tinggalkan hanya dengan Rp20.000. Istri dan anak ia titipkan di rumah orang tuanya, jadi tidak terlalu merasa khawatir.

Akhirnya, Saya pun berangkat ke Kupang. Di Kupang kami berupaya mencari bon 3 tiket pesawat ke Denpasar di Pitoby Travel. Melalui perantaraan Pak Frans dan Pak Anton Haba, tiket pesawat akhirnya kami dapatkan dengan jaminan foto kopi KTP. Meski tiket pesawat sudah siap,  saat itu saya masih harus mencari uang tambahan untuk membeli kebutuhan kami. Saya lalu meminta bantuan pada Kepala Diklat NTT waktu itu Pak Frans Sakera. Permintaan saya waktu itu sempat ditolak beliau karena kami berbeda partai, dia Kuning, saya Merah. Namun saya jelaskan kepada beliau, kedatangan saya ini sebagai generasi muda TTU yang sedang membutuhkan dukungan generasi tua TTU. Beliau kemudian memberikan uang sebesar Rp150.000”.

Kami kemudian dapat tiba di Bali. Di Bali, suatu waktu secara kebetulan saya melintas lewat kamar Ibu Mega dan sempat bertemu dengannya. Dari beliau saya diberi uang Rp.500.000. Uang itu saya kirim kembali ke Kupang melalui Pak Anton Haba untuk membayar bon tiket pesawat

Selesai konggres, dengan jalan darat saya menuju Jakarta. Saya berada di Jakarta hampir satu bulan.

Raymundus Sau Fernandez berkisah, di Jakarta, awalnya ia nginap di Kantor Walhi Mampang, Prapatan. Empat hari di Walhi, ia kemudian tinggal di Percetakan Negara. Waktu itu, saya coba tinggal di hotel satu malam dengan biaya 75.000. Dengan harga per malam seperti itu, saya waktu itu berpikir uang saya bisa segera habis. Akhirnya saya pindah lagi ke Wisma GMNI. Di sana tidak ada tempat tidur, yang ada hanya sofa tua, jadi saya tidur di sofa dengan berbantalkan tas pakaian.

Hampir selama 2 minggu saya hanya makan Pop Mie baik untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Waktu uang saya hampir habis, saya putuskan untuk ke rumah Ibu Megawati di Kebagusan. Meskipun sedang lelah sepulang menghadiri salah satu acara, ketika melihat saya sampai di rumahnya, Bu Mega segera menyapa akrab saya dengan panggilan Timor.

Saya ditanya kenapa belum pulang Timor. Melihar kondisi badan saya yang sangat kurus waktu itu, Bu Mega segera menyuruh saya untuk mengambil makan sendiri di dapur rumahnya. Sewaktu ke dapur, di sana saya temukan ada nasi goreng. Saya pun segera melahapnya bagai di rumah sendiri. Usai makan, Bu Mega kembali member saya uang sebesar Rp.750.000. Katanya, untuk membeli tiket pulang. Tidak lama berselang datanglah Pak Taufiq Kemas, suami Bu Mega. Beliau pun menyapa saya dengan menanyakan kenapa belum pulang Timor. Setelah bercakap sebentar, dari sakunya ia meraih dompet dan mengluarkan semua uang yang tersisa diberikan kepada saya. Setelah saya hitung, jumlahnya sekitar Rp.1.300.000. Saya kemudian bermalam di rumah Ibu Mega. Pa Taufiq meminta saya untuk tidur di kamar rumahnya namun saya menolak dan memilih menemani pak satpam di pos jaga.

Dari rumah Bu Mega saya tidak segera pulang ke Timor. Saya memilih untuk masih di Jakarta untuk membangun jaringan. Saya kemudian bergabung dan ikut demo di Jakarta hampir lima kali. Saya bertemu juga dengan teman-teman dari Islam Fundamental, polisi, tentara dan banyak jaringan lainnya. Saya juga sempat mengikuti diskusi Forum Demokrasi Kebangsaan di rumah Gus Dur. Kawan-kawan GMNI di Jakarta saya datangi satu per satu, dan kami diskusi bersama.

Saya juga menemui tokoh Siswono Yudohusodo. Dari Pak Siswono, saya dan kawan-kawan mendapat uang 750 Dolar Amerika. Waktu itu setelah ditukar ke rupiah menjadi sekitar Rp. 6 juta lebih.

Di Jakarta juga saya punya pengalaman menarik lain, saya bertemu seorang mantan bruder, namanya Romanus Babo. Saya punya pengalaman menariknya. Dia orangnya jarang makan, namun sangat kuat minum kopi dan berdoa. Bila dia berdoa, bisa sampai berjam-jam dan dilakukan dalam posisi berlutut. Saya tidak sanggup ikut berdoa bersama Romanus, karena tidak kuat berlutut dalam waktu sangat lama. Dari beliau, saya mendapat pesan yang sangat berharga. Ia berpesan, sebelum saya memulai aktifitas politik di Kefa, saya harus melakukan novena selama sembilan hari. Saya kemudian dikasih sebuah uang perak. Ia amanatkan agar meletakan uang perak itu di bawah kaki Bunda Maria, tepatnya pada hari kesembilan novena. Pesannya saya lakukan. Setiap jam 12 malam saya pergi ke Gua Betauni selama sembilan malam berturut-turut untuk melakukan novena.

 

Mulai Konsolidasi

Raymundus Sau Fernandez pun mulai pulang ke TTU dan melakukan konsolidasi. Sekarang untuk melakukan konsolidasi orang pergi mengendarai mobil atau sepeda motor. Pada tahun 1998, ketika melakukan konsolidasi awal untuk menjadi ketua PDI Perjuangan, saya lakukan dengan berjalan kaki dari desa ke desa. Biasanya, siang hari saya berangkat dengan numpang angkutan umum, pulang malam harinya dengan jalan kaki. Saya pernah jalan kaki dari Eban sampai ke Kefa.

Raymundus Sau Fernandez dan Aloysius Kobes ketika mendaftar ke KPUD TTU pada periode yang ke 2

Tahun 1999 dalam Pemilu, Raymundus Sau Fernandez akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD dan sukses menjabat Wakil Ketua. Usai terpilih menjadi anggota dewan, saya ke Kupang untuk melanjutkan skripsi karena waktu itu lagi 5 hari saya akan di-DO (drop out). Pada waktu H-2 akan di-DO, saya berhasil maju ujian. Dalam ujian itu, saya hanya diberi 2 pertanyaan. Pertanyaan pertama berkaitan dengan materi skripsi dan pertanyaan kedua berkaitan dengan politik. Hari yudisium saya ternyata dinyatakan lulus. Setelah dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar sarjana peternakan, saya langsung pulang Kefa dan tidak mau mengurus wisuda. Pada tahun 2005, ketika hendak mendaftar diri sebagai calon wakil bupati dengan menggunakan ijazah SMA, banyak orang marah saya.  Katanya, gelar yang selama ini saya pakai itu palsu. Saya akhirnya putuskan untuk mendaftarkan diri dan ikut wisuda Undana tahun 2005.

Raymundus mengisahkan dirinya pernah mau digulingkan dari jabatan sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan TTU, karena menurut mereka selama menjabat tidak bisa diajak kompromi. Karena itu oknum-oknum tertentu mulai memasang calon-calon tertentu untuk mengalahkan saya dalam pemilihan ketua baru. Ternyata dalam pemilihan, setelah semua mekanisme diterapkan melalui melalui pengajuan calon dan seterusnya, semua calon gugur dan tinggal saya sendiri. Mereka kurang paham tentang organisasi jadi tidak tahu kalau pihak kami sudah persiapkan segalanya.  Akhirnya saya ditetapkan secara aklamasi untuk kembali menjabat sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan. Banyak orang yang berniat melengserkan saya jadi kecewa karena saya kembali terpilih. Waktu itu saya sampai dilempar dengan kursi dan aqua. Gelas aqua yang masih berisi air sampai pecah di muka saya. (bersambung)

 

Pos terkait