Industri Periklanan dan Covid-19, “Industri Periklanan Global di Tengah Ancaman Virus Covid-19”

 

Oleh Yuni Indra Chatarina – (Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Dunia sedang dihebohkan dengan adanya wabah baru, yaitu Covid-19 atau biasa disebut Corona. Menurut Yasmin (2020) virus Corona adalah virus yang menyerang sistem pernapasan manusia. Virus ini masih berhubungan dengan penyebab SARS dan MERS yang sempat merebak beberapa tahun lalu. Sampai saat ini belum diketahui apa penyebabnya, namun dikatakan bahwa virus ini disebarkan oleh hewan. Kemudian dapat menjangkit dari satu spesies ke spesies lainnya, tak terkecuali manusia. Akibat dari penyebarannya yang cepat dan belum ditemukannya obatnya, maka masyarakat dihimbau untuk tetap di rumah dan tidak melakukan aktivitas di luar, terutama pada tempat-tempat yang ramai. Hal ini tentu berdampak pada banyak pihak, terutama pada bidang ekonomi. Mulai dari usaha kecil, menengah hingga yang besar, terkena dampak dari wabah ini. Baik itu dampak positif hingga dampak negatif. Tidak terkecuali media, atau dalam hal ini industri periklanan.

Menurut Noor (2010: 173) iklan atau advertising adalah bagian dari kegiatan pemasaran yang berupa penyampaian pesan atau kesan melalui media dan cara-cara tertentu untuk mempengaruhi orang yang dituju. Hal ini dilakukan agar mereka tertarik dengan apa yang telah diinformasikan.

Sedangkan menurut Usman (2009: 139), iklan merupakan industri pendukung di dalam ekonomi media. Industri periklanan bekerja dalam pasar dengan struktur kompetisi monopolistik. Disebutkan juga oleh Belch and Belch (dalam Sinclair, 2016: 3523) bagaimana periklanan saat ini terhubung secara strategis ke dimensi pemasaran ke bentuk promosi lainnya. Dari sudut pandang ini dapat dilihat bahwa iklan bukan hanya untuk membuat orang membeli produk suatu perusahaan tetapi juga suatu kegiatan pemasaran terhubung secara strategis ke kegiatan promosi lainnya.

Bila melihat dampak Corona ke industri periklanan, dampak yang dirasakan cukup beragam. Ada yang mengalami kenaikan dan ada yang mengalami penurunan. Iklan pada media outdoor atau dapat dikatakan pada media tradisional mengalami penurunan karena banyak pembatalan kegiatan atau acara yang dilakukan secara outdoor. Seperti konser atau festival musik. Menurut Dewi (2020), terdapat beberapa konser dan festival musik yang ditunda akibat corona, yaitu, Live Nation Tour, konser BTS, tour Green Day, The Metropolitan Opera, festival Coachella, festival Stagecoach, Konferensi Ted, dan masih banyak lainnya.

Hal ini tentu mengakibatkan banyak perusahaan pengiklan mengalami kerugian. Pasalnya konser dan festival ini merupakan kegiatan yang besar dan diharapkan dapat memberikan dampak bagus pada perusahaan pengiklan.

Sinclair (2016: 3523) menyatakan iklan media tradisional masih menghitung audiens mereka dengan melihat berapa banyak orang yang menonton program atau membeli koran atau majalah mereka. Setelah itu perusahaan akan mengasumsikan berdasarkan angka tersebut sebagai jumlah audiens yang telah melihat konten iklannya. Bila kita menganalisis dari sikap kita sendiri terhadap iklan, maka dapat dikatakan bahwa hal tersebut bukanlah perhitungan yang valid. Faktanya tidak banyak dari antara kita yang memperhatikan iklan pada televisi maupun majalah atau koran. Bahkan kita seringkali mengabaikannya. Sedangkan periklanan digital, menghitung audiens mereka berdasarkan berapa banyak orang yang telah mengklik iklan tersebut. Hal tersebut setidaknya mengindikasikan keterlibatan minimal dari audiens.

Bila dikaitkan dengan apa yang dikatakan Sinclair, maka karena wabah Corona yang sedang ramai saat ini, iklan pada media tradisional kurang diminati oleh pengiklan karena audiens dituntut untuk membeli barang tersebut secara fisik. Sedangkan, masyarakat dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah. Selain itu dengan barang fisik koran dan majalah yang bisa saja telah dipegang oleh banyak orang, dapat menjadi salah satu tempat penularan virus Corona tersebut.

Seperti dikatakan di atas, media lain yang tidak dilirik oleh pengiklan karena wabah Corona adalah surat kabar dan majalah.Sebaliknya iklan-iklan di internet, terutama pada media yang mengalami kenaikan saham akan meningkat. Contohnya Netflix, media ini mengalami peningkatan (dalam hal peminat) karena menyediakan banyak film atau drama seri di dalamnya. Orang-orang yang memutuskan untuk tidak keluar rumah cenderung akan memilih untuk menggunakan media ini. Media-media lainnya seperti media sosial atau aplikasi chating mungkin juga akan mengalami penurunan peminat, hal ini dikarenakan isinya yang terbatas dan tidak semenarik media seperti Netflix. Orang-orang memang akan terus menggunakannya tetapi tentu akan mencari media lain untuk mengurangi kebosanan mereka di rumah. Sehingga banyak pengiklan yang memilih Netflix sebagai sasaran mereka untuk mengiklan. Namun, meski aplikasi chating mengalami penurunan, tidak akan sebanyak media outdoor seperti bioskop yang banyak dihindari orang.

Sincalir (2016: 3523) juga menyatakan bahwa media lama menyampaikan pesan penjualan pada audiens. Pesan tersebut harus memotivasi audiens untuk merespons di lain waktu dan di tempat yang berbeda untuk membelinya. Maksudnya audiens harus pergi ke toko atau tempat lain untuk dapat mengakses produk atau jasa tersebut. Sedangkan dengan internet audiens dapat merespons pesan iklan hanya dengan sekali klik kemudian menambahkannya ke “keranjang belanja” virtual dan membayarnya secara online.

Di saat seperti ini, iklan pada media internet tentu akan lebih diminati oleh pengiklan. Hal ini tentu berkaitan dengan bagaimana masyarakat dihimbau untuk tidak keluar rumah. Dengan adanya internet mereka tidak perlu keluar rumah untuk berbelanja dan tentu iklan di internet akan jauh lebih banyak dilihat oleh orang dibandingkan dengan iklan di media tradisional atau iklan outdoor.

Bila dilihat kembali iklan atau acara berkaitan dengan kesehatan akan mengalami peningkatan. Views pada media yang paling cepat memberitakan mengenai Corona akan lebih banyak dibandingkan dengan media yang lambat, meskipun media tersebut terpercaya. Hal ini dikarenakan kepanikan masyarakat menghadapi virus baru ini membuat mereka mencari tahu lebih lanjut mengenai perkembangan virus ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Selain itu, menurut Isna (2020) terdapat beberapa perusahaan atau aplikasi yang mendapatkan dampak positif dari wabah corona, yaitu: permainan atau game dalam jaringan (daring).

Hal ini diakibatkan oleh wabah Corona yang memaksa orang-orang untuk terus berada di rumah, sehingga mereka akan mencari kegiatan yang dapat mengatasi rasa bosan. Kedua, aplikasi olahraga. Keterbatasan untuk keluar dari rumah juga membatasi orang-orang untuk dapat berolahraga. Selain itu dengan adanya virus ini banyak orang yang meningkatkan intensitas berolahraga mereka agar lebih bugar.

Hal ini mengakibatkan aplikasi olahraga atau fitness mengalami kenaikan minat masyarakat. Selanjutnya adalah aplikasi kesehatan, di mana banyak orang yang tidak ingin keluar untuk menemui dokter karena resiko terpapar penyakit sehingga dapat mencari tahu penyakit dan gejalanya melalui aplikasi ini. Terakhir adalah e-commerce, hal ini dikarenakan pasokan masker dan antiseptik yang mulai menipis sehingga banyak orang yang mencari barang-barang tersebut melalui e-commerce.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan untuk menanggulangi permasalahan ini? Sesungguhnya teknologi akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Sehingga media tradisional mau tidak mau harus belajar dan turut memanfaatkannya pula. Misalnya televisi harus mecoba membuka channel di internet dan menarik audiensnya. Sebagai contoh salah satu acara televisi, Master Chef, mengunggah cuplikan-cuplikan menarik di channel Youtube mereka. Namun, mereka tidak mengunggah keseluruhan acara tersebut. Hal ini dilakukan agar penonton merasa penasaran dengan apa yang terjadi sehingga mau tidak mau menonton keseluruhan acara di televisi. Hal yang sama harus dilakukan oleh surat kabar dan juga majalah. Misalnya dengan membuka situs dalam jaringan (daring).

Saat ini internet memberikan kita banyak kemudahan dan dengan kreatifitas yang tinggi kita dapat memanfaatkannya. Semakin menarik desain situs suatu media maka semakin banyak audiens yang menghampiri situs tersebut. Hal ini tentu juga akan menarik pengiklan untuk dapat mengiklan di suatu media. Pasalnya pengiklan tentu akan mencari media yang paling dapat menguntungkan mereka.

Pos terkait