Memprihatinkan, Ini Potret Kehidupan Lius, Lima, dan Putri Semata Wayang Yang Tinggal di Gubuk Reot

  • Whatsapp

Mbay, Savanaparadise.com,- Sudah Bertahun-tahun sepasang suami istri, Yulius Iko (43) dan Anatresia Bengu bertahan hidup dan tinggal di gubuk reot yang bertempat di Desa Aeramo, Dusun 5, RT. 33,Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT.

Demi menyambung hidupnya, keseharian Yulius Iko adalah mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya. Sedangkan sang istrinya sendiri adalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT). Pasangan suami istri ini telah dikarunia seorang putri cantik, Natalia Runu Bengu (7).

Bacaan Lainnya

Yulius Iko hanya mengenyam pendidikan di tingkat SD, itupun tidak sempat selesai. Dan kini, apa yang di alami oleh sang Ayah juga terjadi pada putri semata wayang mereka.

Dimasa kanak-kanaknya, semestinya Natalia Runu Bengu, Putri dari Yulius harus berkumpul bersama teman-teman sebayanya di sekolah, akan tetapi karena keterbatasan ekonomi keluarga dan kendala di administrasi kependudukan, Natalia tidak bisa menikmati kebahagian dan bersekolah layaknya anak-anak lainnya.

Pria yang akrab di sapa Lius ini sebetulnya adalah warga Kabupaten Ende dan istrinya Lima warga Desa Aeramo. Demi istrinya, Lius rela meninggal Kabupaten Ende untuk hidup bersama istrinya di Kabupaten Nagekeo. Mirisnya, hingga saat ini mereka belum memiliki identintas yakni KARTU TANDA PENDUDUK Kabupaten Nagekeo.

Sebelumnya, Lius sempat mengurus Adminduk,  namun dipertengahan jalan, Lius harus menyerah dikarenakan tidak ada biaya untuk pulang pergi dari Nagekeo ke Ende.

Lius, Lima dan putri semata wayangnya tingggal di gubuk reot dengan dinding rumah yang terbuat dari Naja dan sekat kamar yang dibatasi memakai batang daun gebang dan atapnya dari daun gebang.

Di dalam gubuk reot itu,  hanya terdapat satu kamar tidur yang berukuran 1.5 X 2 meter dan satu dapur dan ruang tamu berukuran sama.

“Kami tinggal digubuk ini sejak tahun 2015, saya bersama istri dan putri kami Natalia menetap di gubuk yang kami buat seadanya”, kisah Lius kepada wartawan, Selasa, (15/6/21).

Lanjut Lius, ketika musim hujan tiba mereka kewalahan dikarenakan atap yang sudah lama dan daun sudah rapuh sehingga air hujan bisa menembus atap rumah mereka.

Lius menuturkan demi bertahan hidup saya dirinya mencari kayu bakar di kebun miliknya sendiri, lalu menjualnya. Dan hasil dari penjulan kayu bakar perbulannya biasa didapat Rp 500.000, itupun kalau kayu terjual, imbuhnya.

Ditengah kondisi ekonomi Lius yang serba terhimpit, Lima sang istri hanya bisa membantu suaminya dengan mengumpulkan asam untuk dijual kalau musim asam.

“Saya hanya bisa membantu suami saya dengan menjual asam, itupun kalau musim asam. Yang satu tahun satu kali saja.” Jelasnya.

Lima juga menambahkan, sudah 5 Tahun mereka menetap, namun mereka belum pernah mendapatkan bantuan apapun. Tapi lima juga tidak pernah berharap.

Bahkan lima menuturkan dirinya bersama suami dan anaknya tetap bertahan hidup dengan segala rezeki yang Tuhan berikan.

Pantauan media ini, selain kondisi rumah yang tidak di layak untuk di huni, lingkungan disekitar rumah Lius tinggalpun dilengkapi dengan MCK sehingga apabila diperhatikan dari aspek kesehatan sangat tidak mendukung.

Mengenai kondisi ini, saat diwawancarai media SP terkait WC, suami istri ini hanya bisa tersenyum sambil menjawab tidak ada.
Dan lima menjelaskan bawah selama ini mereka hanya bisa jadikan hutan sebagai tempat WC.

Disamping, yang lebih memprihatikan lagi adalah akses air minum bersih yang dikonsumsi Lius bersama keluarga kecil digunakan dari sumur yang digali sendiri guna untuk memenuhi kebutuhan mereka setiap hari, namun, kondisi airnya yang berwarna kecoklatan yang tidak layak untuk dikonsumsi, dengan terpaksa mereka konsumsi.

Lalu, ketika malam hari datang, Lima mulai menyalakan pelita untuk menerangi gubuk kecil mereka.

Penulis : Fardin Bay
Editor : Chen Rasi

Pos terkait